HARRY CAPRI BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT

Bagi generasi milenial sekarang, nama Harry Capri (HC) mungkin sangat asing. Sama sekali tidak kenal. Tapi bagi generasi baby boomer maupun generasi X, yang lahir tahun 60-an, nama HC cukup populer di masanya. Banyak remaja yang tergila-gila pada sosok keren HC.

HC kelahiran Sungayang, Kabupaten Batusangkar, Sumatera Barat, 67 tahun yang lalu. Berawal sebagai pesilat dan karateka, ia terjun ke dunia film laga, dan merajai film-film laga dan drama di layar lebar. Sosoknya tinggi, gagah, perkasa, memang tepat memainkan segala peran aktor, romantis maupun keras.

Pada tahun 1981-an, HC membintangi tidak kurang dari 5 film laga. Antara lain Hati Selembut Salju, Bunga-bunga Perkawinan. Tahun-tahun berikutnya membintangi tidak kurang 8 film, seperti Warok Singo Kobra, Perawan Rimba, Seruling Sakti, Panji Tengkorak vs Jaka Umbaran, dan lainnya.

Untuk film laga, HC mendominasi pada tahun 1985-an hingga 10 judul, seperti Komando Samber Nyawa, Dare Devil Commandos, Si Buta dari Gua Hantu yang diadaptasi dari komik Ganes Th, karya komik tahun 1967.

Nama HC kian berkibar karena tahun-tahun berikutnya makin produktif main film laga maupun drama asmara hingga nuansa horor. Antara lain Kisah Cinta Nyi Blorong, Di Balik Dinding Kelabu, Sentuhan Rumput yang Bergoyang, Perempuan Malam, Satu Cinta Sejuta Rasa, Peluru dan Mesiu, Cakar Harimau.

Pemberitaan tentang Harry Capri pada masa itu juga ramai, tidak kalah dengan infotainment di tv-tv sekarang ini. Terutama setelah ia menikahi dengan Camelia Malik, jandanya penyanyi The Mercy’s, Reynold Panggabean. Tapi pemberitaan waktu itu hanya di media cetak. Mia menikah dengan Reynold selama 13 tahun, tanpa dikaruniai anak.

CM atau Mia juga terkenal pada masanya. Putri insan film Djamaluddin Malik, pengusaha perfilman. Teman-teman ayahnya antara lain Asrul Sani, Usmar Ismail, Fifi Young. Mia main film judul Ratna pada umur 16 tahun, bersama penyanyi terkenal Rahmat Kartolo.

Mia melesat sebagai pedangdut setelah menyanyikan lagi Colak-colek, karya suaminya, Reynold Panggabean, tahun 1975. Sukses besar, dan namanya melambung. Lagu-lagu selanjutnya juga laris manis, seperti Raba-raba, Ceplas-ceplos, Colak-colek 2. Namanya sejajar Rhoma Irama, Muchsin Alatas, Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, dan Ellya Khadam.

Harry Capri menikahi Mia atas saran Rhoma Irama. Awalnya juga aman rukun damai. Dikaruniai 2 anak, sekarang sudah berumah tangga dan memberi cucu. Sekitar 25 tahun berumah tangga, akhirnya kandas, berpisah tahun 2013. Alasannya, karena sering cekcok. Perceraian ini juga mengundang pemberitaan luas, dan sudah masih infotainment tv-tv.

Kini Harry Capri sudah berumah tangga lagi, menyunting wanita cantik, lembut, kuning langsat, tinggi semampai, senyum tulus hangat, bergigi rapi. Namanya? Ajeng Ayuningtyas Wahyu, dan dikaruniai 2 anak. Anak kedua berumur sekitar 18 bulan, diberi nama Poeti. Nama inilah yang dipakai untuk POETI Mountain Resort di Pamijahan, Gunung Salak Endah, Bogor Barat.

“Tapi hubungan kami baik-baik saja. Mia sering datang dan menginap di sini. Saya tetap memberi bantuan untuk hidupnya,” kata HC di tengah kebun luas, sambil mengawasi pekerja membetulkan pembatas tanah. “Saya juga sering memberi bantuan ekonomi pada Iyek.”

HC tidak meninggalkan dunia seni. Masih mengelola production house di Jagakarsa untuk membuat FTV dan serial sinetron. Tapi sering kecewa melihat perilaku para artis atau aktor muda-muda sekarang ini,juga pada industri film dan sinetron yang tidak terkendali.

“Honor mereka sekali main atau per hari, 50 juta rupiah. Tapi mereka tidak punya tatakrama kepada para senior. Datang tidak menyapa, apalagi menyalami atau cium tangan,” kata HC. “Padahal, dulu untuk jadi aktor, apalagi sutradara, tidak gampang. Melewati banyak tahap.”

Kini Harry Capri usaha resort di kawasan Pamijahan, Gunung Salak Endah, Bogor Barat.
“Saya tidak membeli. Tanah ini milik Taman Nasional Gunung Halimun. Saya diberi Hak Guna Pakai selama 55 tahun, bisa diperpanjang 20 tahun, diperpanjang lagi selama 20 tahun, dan 20 tahun lagi. Tanah sampai batas sungai, 6 hektar. Sungai ke sana, 5 hektar.”

Taman Nasional Gunung Halimun juga mendapat manfaat dengan kerja sama. Tidak ada pencurian kayu, malah penghijauan lebih terpelihara. KDB (koefisien dasar bangunan) hanya boleh 10% dari total luas tanah.Masyarakat sekitar juga ikut menikmati, dengan jadi pekerja. Memakai seragam, berangkat pagi-pagi, termasuk para remaja yang bekerja di resort.

“Sebenarnya mereka jauh di bawah standar kualifikasi. Kita ajari pelan-pelan yang remaja, bagaimana jadi karyawan. Ada yang saya ajari bahasa Inggris, eh dia malah takut, dan tidak mau datang kerja lagi. Mereka yang bekerja jadi punya penghasilan, bisa kredit motor. Ya, kehadiran kami di sini jadi bermanfaat bagi masyarakat sekitar.”

HC juga pernah menggelar reunian sebanyak 48 teman-teman aktor, aktris, insan film, dan media yang seangkatan dia, pada tahun lalu. Mereka ternama dan berjaya pada tahun 70-an, 80-an, dan 90-an. Menginap, makan-makan, joged-joged. Semuanya gratis.

Saya mengajak istri menghampiri Harry Capri usai main paintball. Bertanya-tanya sebentar, dan nyambung setelah saya bilang dulu pernah wawancara dan motret dia, bersama atasan saya yang fotografer di Majalah Kartini, almarhum Pak Tom Goeltom. Istri saya pun penasaran, bertanya bisik-bisik, bagaimana cara membawa kontainer ke lokasi resort?

“Kalau bergurau, saya bilang pakai helikopter, malem-malem. Tapi sebenarnya kontener dibongkar dulu. Dipreteli pakai las, diangkut ke sini. Sampai sini, dilas lagi. Dipotong-potong, dibuat lingkaran kaca dan langit-langit. Hitung-hitung, jatuhnya malah lebih mahal.”

Semua ada 18 vila resort dan akan ditambah lagi, sesuai ketentuan batas KDB tadi. Bu Atik, Bu Sri, dan Bu Elly ikut bergabung. Biasa, ibu-ibu minta foto bersama. Tapi jangan bayangkan aktor laga Harry Capri tahun 80-an. Masih gagah, namun sudah bertekad bulat.

Kami berenam berjalan menyusur jalan berbatu menuju teras office. Berjumpa istri HC dan adik perempuan, yang mengelola tempat peristirahatan ini. Duduk sebentar, minum dan nikmati singkong rebus. Kami bersalaman, berpamitan mau kembali ke Jakarta. (selesai) *

Seluruh Cerpen Kegembiraan Family gathering Attin Tour 2019 merupakan karya tulisan Bapak Haji Prasetyohadi Prayitno. Beliau adalah salah satu penulis legend “Oh Mama Oh Papa” yang terbit di majah Kartini era dulu. Pak Haji Pras merupakan alumni jamaah haji Attin Tour yang mendapat kehormatan menjadi ketua majlis pengajian rutin yang dilaksakan setiap Sabtu awal di setiap bulan.

Anda juga bisa menonton video keseruan Gathering ATTIN TOUR dengan cara klik –> Video Gathering atau silahkan baca part sebelumnya dari cerita Gathering –>
Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 Part (1)
Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 Part (2)
Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 Part (3)

Please Share :
Butuh bantuan?