MAIN PAINT BALL, MENEMBAKKAN CINTA

Bunitia dan panitia wanti-wanti untuk sholat tahajud dan subuh berjamaah. Tapi lupa ngasih tahu tempatnya. Ternyata pula, saya dan istri juga lupa bangun. Masih sempat sholat subuh sih, meski mepet waktu. Mau mandi rasanya males. Dinding kontener dari besi baja, gak mampu meredam suhu. Hawanya tetap dingin, kami berdesakan bawah selimut. Asyiik, kan?

Berangkat duluan ke lapangan, ngos-ngosan naik sekian puluh anak tangga berbatu-batu. Tiba di lapangan, rupanya Pak untung sudah selesai senam atau pemanasan. Peserta diajak berbaris rapi, dan mulailah jalan kaki naik turun menyusur jogging track. Tikungan cukup tajam, turunan juga agak curam. Pagi-pagi menikmati panorama hutan dan lembah hijau.

Pepohonan rapat. Terhirup oksigen murni untuk paru-paru. Di bawah vila Ciasmara, saya berteriak-teriak memanggil istri. Bu Yeti! Bu Yeti! Eh, gak menyahut dan gak muncul ke teras. Mungkin lagi sholat atau mandi. Bu Sri minta temannya memotret, berlatar rumpun bunga bougenville warna ungu muda. Sebenarnya bukan bunga, tapi disebut helai seludang.

Maju lagi menyusur track bersemen dan berbatu. Pohon-pohon damar mulai tumbuh, tinggi sekitar 3 meter. Ditanam agak rapat. Ke depan, sekitar 30-50 tahun, pohon damar menghasilkan getah damar yang punya nilai ekonomi tinggi. Jalan lagi, sampai ke restoran, sebagai posko utama. Capek jalan kaki, lapar, serbu sarapan ala Amrik dan tradisi Sunda.

Terharu melihat dari kejauhan, Pak Atik memeluk putri sulungnya dari belakang, lelah letih jadi bunitia. Telaten tekun mengurusi peserta family gathering ini. Sarapan satu meja dengan ayah, ibu, adik-adik, dan kerabat dekat. Entah apa yang mereka ucapkan, namun itu indikator betapa rukun akrab hubungan keluarga yang humble. Sakinah mawadah warahmah. Aamiin.

Saya bertukar pengalaman dengan Pak Ismail dari Pati, Jawa Tengah, yang membawa serta istri. Ternyata Pak Mail itu peknggo, alias ngepek tetangga, atau memperistri tetangga. Pak Mail dan saya sama-sama pernah ke Timor Timur, namun pada waktu dan suasana berbeda. Saya pernah ke Viqueque dan Los Palos ujung timur, suasana sudah mulai damai tenang.

Setelah sarapan, naaah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Main paint ball. Ayo kita main! Bergegas ke tanah terbuka dekat paskiran bus, di seberang jalan arah timur. Sebelumnya berkumpul dapat arahan dari Pak Untung. Jangan sekali-kali buka masker penutup wajah. Jika teledor, terbuka dan tertembak tepat di mata, jangan kagetmata bisa buta! Siaaap?

Siaaap!!! Pak Untung, Pak Mail, dan Pak Didi tidak ikut, karena berlatar militer. Operator mengambil alih, mulai berbagi kelompok. Pengenalan senjata dan perlengkapan pengaman, aturan main, genjatan senjata, serta menarik keluar pemain jika tertembak lawan. Jelas? Jelas! Nampak sekali semua tidak sabar, ingin segera masuk arena pertempuran. Bakal seru, nih.

Sufi Lutfiani, karyawan baru 4 bulan di Attin Tour, nampak periang dan enjoy aja jadi bulan-bulanan teman-teman. Anak warga dekat perempatan Pasar Rebo itu kesulitan mencari celana yang muat. Akhirnya dapat juga, namun peyutnya tidak muat. Tidak bisa dikancing. Tenang aja, Sufi. Saya bantu mengikatkan tali rafia merah dari bagian pengaman ikat pinggang.

Masuk arena pertempuran, bersiap di posisi awal, untuk menyerang wilayah musuh dan mengambil bendera biru. Siaaap? Dor dor dor. Tembak menembak pun terjadi. Ayo maju, maju, serbu! Pak Untung menyemangati dari luar jaring pembatas arena. Sufi coba maju. Belum sampai barikade pelindung, sudah ketembak duluan. Akhirnya ditarik keluar.

Mosok panser kok ketembak duluan? Cowok-cowok meledek, Sufi senyum-senyum sambil ngos-ngosan. Kelompok berikutnya masuk arena tempur. Semua bersorak girang. Heboh. Ada apa? Oo rupanya Firman berhadapan dengan Leni, cewek yang ditaksirnya. Ketika bertempur pun, Firman berhasil menyergap Leni di balik barikade berupa terpal di tengah.

Firmaaan, tembak Leni! Tembak! Leni pun menyerah, dan keluar arena. Entahlah, apakah Firman berani menembakkan peluru bola warna kuning berisi pewarna makanan? Atau langsung menembakkan kata-kata cinta kepada Leni? Hanya mereka berdua yang tahu. Teman-teman aja kelewat heboh. Biarlah bola-bola cinta tersimpan di hati mereka berdua.

Selesai main tembak-tembakan paint ball, matahari memancar makin tinggi dari balik pohon damar, pinus, afrika, dan rumpun bambu. Harry Capri (HC) mengawasi dari jauh, sambil mengawasi tukang batu membetulkan pembatas kontur tanah. Saya mengajak istri menghampiri HC, ngobrol nostalgia masa lalu. Disusul lagi oleh Bu Atik, Bu Sri, dan Bu Elly. (tentang Harry Capri dan kisah kasih serta karier, akan saya tulis terpisah. Besok).

Saya dan istri merasa diperlakukan istimewa di kegiatan family gathering ini. Selesai main paint ball, mampir minum di teras office, sambung ngobrol lagi sama HC, istrinya, dan adiknya yang mengelola resort. Mau kembali ke vila, dicegat Opick dan Sugi untuk menikmati durian. Sudah dibelah-belah, tinggal nikmati. Rasanya? Manis-manis manja.

Daging tipis, namun legit bukan main. Bahkan saya diberi satu butir utuh warna kuning untuk dibawa pulang. Wandi di undakan turun memberi tahu, di teras vila sudah disediakan juga satu durian sudah dibuka. Mau bawa dua tas ransel pakaian mau pulang, dicegah juga. Sigit cekatan langsung mengangkat sekaligus menggemblok, bergegas naik ke restoran.

Makan lagiii. Acara Family Gathering Attin Tour ini benar-benar membuat peyut langsung ndut. Makan-makan melulu, dengan menu tradisional berganti-ganti tema. Berlimpah makanan besar dan kecil. Di dalam bus pulang, dibagikan lagi snack. Sufi Lutfiani di bus baru terbuka: Sufi murid SDN Susukan 07, semasa istri saya masih kepala sekolah SD.

Sebelum tertidur, saya sempat menikmati suara Pasha Ungu dan Cakra Khan. Sebenarnya ingin pesen Siti Badriah, Via Vallen, atau Raisa Andriana, tapi saya telanjur ngantuk. Terbangun ketika Mbak Reny sibuk sakit peyut akibat makan jengkol balado. Eh ada yang lain juga. Berhentilah kami di pomp bensin numpang pup.

Melewati kemacetan Jalan KH Abdullah Bin Nuh (nama jalan ini unik, pakai bin) di Bogor Utara, Yuli dan Salamah repot menenteng tas maju ke depan. Mau turun lebih dulu untuk ke Depok. Berdiri mengintip jalan. Ternyata bus melangkahi jalan tol Jagorawi, terus bablas ke Sentul mau ke pusat jajan dan oleh-oleh. Keduanya tetap berdiri dekat pintu hingga lokasi.

Para peserta berdesakan beli oleh-oleh, mereka ngebakso dulu dekat bus parkir. Bus jalan lagi, mereka gak jadi turun. Justru Elly dan Sri yang turun duluan. Yuli dan Salamah turun di Cibinong, sudah dijemput keluarga. Bus William melaju menembus kemacetan khas tol Jagorawi Minggu sore. Bus sampai di kantor Attin Tour di Cipayung setelah adzan magrib.

Perjalanan ini sungguh indah, mengesankan, penuh kehangatan. Hanya dua hari satu malam, namun tidak terlupakan sepanjang jalan kenangan. Terima kasih tidak terhingga kepada Keluarga Besar Attin Tour, Pak Ustadz Atik Mulyanto, Pak Ustadz Thoufan Firdaus, seluruh staf dan karyawan. Sampai jumpa pada kegiatan-kegiatan mendatang. Semoga kita semua dikaruniai kesehatan, umur panjang, dan kegembiraan oleh Allah SWT. Aamiin YRA. *

(bersambung maning tentang HC, besok nggih)
Lanjut –> Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 (4), atau baca sebelumnya –> Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 (2)

Please Share :
Butuh bantuan?