NYANYI-NYANYI, NYAWER, KAMBING GULING

Wuih, suhu di Mountain Resort benar-benar menyiksa. Dinginnya kisaran 15-18 derajat Celcius. Sebagian kamar menggunakan kontener yang dimodifikasi jadi kamar tidur. Bagian atas diberi langit-langit dengan lighting soft tersembunyi. Kamar mandi sistem modul. Kecil namun lengkap, berikut air panas dingin. Teras cukup lega untuk memandang panorama khas pegunungan. Atap dari tenda ala bandara Jeddah, harga tenda Rp 1,25 juta per meter persegi.

Rasanya baru tarik napas, selesai mandi dan sholat, eh panitia dan bunitia sudah keliling naik turun memberi informasi. Peserta supaya segera siap-siap makan malam dan ke lapangan untuk acara yang lebih seru. Hebat, panitia dan bunitia, kapan kalian istirahat? Coba intip perut, jangan-jangan gak ada puser, alias puser kuda. Gak kenal cape. Para peserta pun mendaki dan melangkah gontai menuju restoran. Masih lelah, tapi wajib ikut semua acara.

Restoran jadi tempat interaksi seluruh peserta. Ada yang baru kenalan, ada yang bisik-bisik, ada pula yang melirik-lirik diam-diam. Selesai makan, para ahli hisab segera menyisih atau ke jalan depan. Asap mengepul pepohon dan rumpun bambu di sekitar sungai. Asma dari Makassar curhat. Pak, saya pengin bisa ngomong di depan publik, tapi saya suka grogi. Oh, itu namanya demam panggung. Ah, itu mah gampang. Minum obat anti demam dan berlatih.

Rasanya makan belum turun, panitia bunitia sudah mengajak ke samping lapangan. Opick sejak sore sudah memasang banner pas di belakang panggung beratap rumbia pendek. Depan panggung dibuat sumur dangkal untuk api unggun. Di seberang panggung penyanyi, dibuat panggung permanen berlatar neonsign warna-warni bertulis POETI. Di jembatan berlama-lama selfie, berlatar caping caping digantung dan lampu warna-warni berbentuk gerbang.

Malam dingin, pelan-pelan mulai hangat. Pak Ustadz Thoufan Firdaus langsung nyamber mike. Dedeg piyadeg atau sosoknya yang gagah, perkasa, dan lemu ini, kalau sudah pegang mike bikin orang terpingkal-pingkal. Ada aja kosa kata dan diksi untuk ngerjain jamaah yang mengundang gelak. Sambutan resmi pun disampaikan Pak Atik Mulyanto sebagai tuan rumah mengucap terima kasih kepada seluruh karyawan bersama keluarga serta jamaah.

Pras, jamaah hajian 2016, diminta maju mewakili jamaah menyampaikan testimoni. Intinya seneeeng banget karena bisa berkumpul dan bergembira ria. Tarifnya pun terhitung murah bingiiit. Hanya Rp 1,3 juta, sudah transportasi, konsumsi, outbound, hiburan, dan akomodasi. Padahal, kamar kontener Ciasmara aja, tarifnya Rp 1,5 per malam, dan bisa bertiga. Istri Pras diam aja, di panggung menolak ngomong. Cuma diam, mejeng, menunduk malu-malu.

Para peserta mulai tertawa ketika Susi Latah diminta naik memberi sambutan. Baru maju beberapa langkah, dikagetin Pras sampai nyaris tersandung. Naik panggung, dikagetin Ustadz Thoufan. Baru saja pegang mike, dikagetin lagi oleh Pak Atik. Susi mutung. Gak jadi menyambut, lari turun balik ke bangku samping. Biduan yang rajin dandan mulai tarik suara. Nah, cowok-cowok mulai bergerak ke depan panggung. Suasana riuh meriah makin hangat.

Sugi pesan lagu Kereta Malam. Begitu sampai lirik Jug gijak gijuk gijak gijuk, kereta berhenti. Jug gijak gijuk gijak gijuk, hatiku gembira. Semua ikut menyanyi. Sugi langsung ke depan panggung, disusul Opick dan Wandi. Saweran pun mulai berpindah tangan ke tangan penyanyi. Elvy Sukaesih muncul di kiri depan panggung. Dia namanya siapa nih? Pokoknya setiap ada lagu, dia asyik menikmati berjoget sendirian di bawah pohon di depan Susi Latah.

Para cowok makin joget seru di lagu Jaran Goyang dan Semar Mesem. Di depan panggung berdesakan Ustadz Thoufan, Opick, Sugi, Wandi. Cewek-cewek ikut joged gembira. Ketika Sufi Lutfiani ditarik turun, jadi penuh sesak. Harto. Dede, dan kawan-kawan gak mau turun dari panggung terbuka depan neonsign, seberang panggung penyanyi. Api unggun mulai menyala berkobar bikin hangat. Anak-anak berlarian ikut joget. Woi, Pak Untung ke mana?

Di kiri depan, meja sudah dibuka. Kopi dan teh sudah siap. Kambing guling mulai diiris-iris, jagung mulai dibakar. Berderet pula sosis sapi ukuran besar sedang dibakar, sudah ditungguin anak-anak. Ibu-ibu mulai bangkit dari pelataran berundak-undak, menuang teh atau kopi. Ambil singkong rebus dan kambing guling. Bu Sri dari Depok dan Bu Hj Elly dari Citayam, berjejer sama Bu Atik dan ibunya Mega. Tekun menikmati kambing guling campur singkong.

Pras semula malu-malu mau maju nyawer karena bawa provoost. Eh ternyata provoost malah nambahin uang buat nyawer. Pak Haji mau pesen lagu apa? Tanya penyanyi baju kuning. Lagu lama boleh? Boleh, lagu apa? Lagu Kuda Lumping. Eh kirain Tembang Kenangan, ternyata dangdut. Baiklah, lagu Kuda Lumping. Tarik Maaang. Ada suatu permainan, permainan unik sekali. Orang naik kuda, tapi kuda bohong. Namanya kuda lumping.

Begitu lagu masuk reffrein, Pras mulai beraksi. Bergerak lincah meniru pemain kuda lumping. Meloncat-loncat cepat. Itu kuda lumping, kuda lumping, kuda lumping, kesurupan. Itu kuda lumping, kuda lumping, kuda lumping, loncat loncatan. Pak Atik terkekeh-kekeh sambil merekam video mengikuti para pejoget yang terus bergerak mirip orang kesurupan.

Makin malam, aroma kambing guling makin menguar. Pakai bumbu kecap dan cabe. Anak-anak nambah sosis bakar. Kambing guling masih segluntung di meja. Beberapa ibu melempar daging yang agak liat ke dalam api unggun. Aroma daging terbakar kian tercium. Ada yang melempar tongkol jagung bakar. Harto pesan lagu Prau Layar. Bersambung lagu Suket Teki. Ada ibu-ibu bisik-bisik, Pak pesen lagu Mabok Janda dong. Ah, gak enak ama yang janda.

Reny, Chandra, Yuli Nuroni, Salamah, Adin, Leni, Sufi, dkk dkk dkk berdesakan berjoget dipimpin Ustadz Thoufan di depan panggung. Pak Atik senyum-senyum sendiri mojok di depan sambil isep-isep nonton video rekamannya. Lagi asyik-asyiknya berjoget, eh Pak Ustadz mengajak semua turun dan maju ke depan panggung. Bersama-sama menyanyikan lagu Kemesraan sebagai penutup acara nyanyi dan joget-joget malam Minggu seru itu.

Lagu wajib Kemesraan usai, pas jam 23.00. Malam kembali terasa dingin. Peserta melangkah pelan menikmati malam, sambil bersedekap memeluk dada. Turun menuju kamar masing-masing. Panitia dan bunitia mengingatkan para peserta. Nanti malam ada sholat tahajud sambung sholat subuh berjamaah. Besok senam pagi bersama. Baiklah, selamat malam, selamat istirahat. *
(bersambung)

Lanjut –> Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 (3), atau baca sebelumnya –> Kegembiraan Family Gathering Attin Tour 2019 (1)

Please Share :

No Responses

Butuh bantuan?